Kamis, 07 Februari 2013

SABAR DAN SYUKUR







     Hidup penuh dengan cerita sedih dan bahagia. Sebab itu, sabar dan syukur adalah modal utama agar kita sukses menjalaninya. Dengan bersabar, jalan keluar bagi suatu masalah akan cepat kita temukan, dan dengan bersyukur, berbagai kebaikan akan Allah curahkan kepada kita.

     Orang yang mampu bersabar dengan berbagai cobaan hidup dan mau bersyukur dengan anugerah yang ia terima akan meraih kesuksesan lebih cepat dan lebih besar ketimbang orang lain yang tidak melakukannya. Karena, orang yang terbiasa bersabar dan bersyukur cenderung lebih pintar dalam mengelola potensi dirinya.

     Dalam buku ini, penulis menguraikan betapa sabar dan syukur sangat mudah dikerjakan selama kita memiliki iman yang kokoh dan komitmen diri yang kuat. Selain itu, rahasia-rahasia utama di balik dua sikap tersebut juga penulis kupas dengan baik.

    Hidup supersukses bukan hanya angan-angan jika kita mengetahui rahasia-rahasia untuk meraihnya. Dan, buku ini adalah awal yang tepat untuk menyibak rahasia-rahasia tersebut

100 TOKOH PALING BERPENGARUH DI DUNIA

 
 
 
     Pertama kali diterbitkan, tahun 1978, buku ini menimbulkan kontroversi di seluruh dunia. Betapa tidak, sang penulis, Michael H. Hart, berani mengambil keputusan menempatkan Nabi Muhammad Saw. di urutan pertama, padahal dia sendiiri nonmuslim dan Islam bukanlah agama terbesar di dunia. Toh, buku ini terjual jutaan eksemplar dan dibaca berbagai kalangan, serta menjadi  koleksi turun-temurun di setiap rumah dan perpustakaan.

      Bagi Hart, seratus orang yang dipilihnya bukanlah orang-orang yang paling pintar, kuat, dan hebat, tetapi paling memengaruhi dan mengubah sejarah, mendorong kebangkitan dan kejatuhan sebuah peradaban, serta menentukan  langkah takdir jutaan manusia.

     Kini buku ini hadir kembali dengan edisi terbaru, di mana Hart mengajukan peringkat dan daftar orang yang berbeda,yang karier dan kontribusi mereka ditulis secara tajam dan enak dibaca.

Novel Ranah 3 Warna





      Siapa saja boleh bermimpi, siapapun dia, bagaimanapun latar belakang keluarga, ekonomi maupun pendidikannya. Yang dibutuhkan adalah fokus, sungguh-sungguh dan berusaha sekuat tenaga. Namun ketika usaha itu tak kunjung membuahkan hasil, malah mendatangkan cobaan bertubi-tubi, kesabaran jadi kunci utamanya, man shabaa zhafira.
      Seperti yang dialami Alif,tokoh utama dalam novel Ranah 3 Warna yang ditulis oleh Ahmad Fuadi. Siswa yang baru saja tamat dari pondok Madani ini punya mimpi besar untuk hidupnya. Ia ingin kuliah di ITB jurusan penerbangan seperti Habibie lalu merantau ke Amerika.
      Bagi sebagian besar masyarakat Maninjau, Sumatera Barat, tempat Alif berasal, hal ini sangat-sangat mustahil. Alif tak punya ijazah SMA sebagai syarat bisa mengikuti ujian SNMPTN. Apalagi merantau ke Amerika!
     Namun cemoohan dan kepesimisan orang-orang itu malah menjadi cambuk bagi Alif untuk mewujudkan impiannya, meski sulit. Di sinilah menariknya buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara ini dibanding bukunya yang pertama.  A. Fuadi mampu membawa pembaca ikut menyelami pahit manisnya lika-liku kehidupan yang dialami alif. Konflik yang diciptakan sangat hidup, didukung dengan tokoh-tokoh lain yang berperan penting bagi Alif. Seperti tokoh Ayah yang selalu menunjukkan rasa sayangnya dengan cara yang berbeda. Lalu tokoh amak sebagai janda yang tetap tegar meski telah ditinggal mati suaminya. Meski hidup kesusahan, alih-alih menyuruh Alif pulang ke Maninjau, ia malah terus memompa semangat anak pertamanya itu. “Salasaian apo yang alah waang mulai,” selesaikan apa yang sudah kamu mulai, begitu ucapnya ketika Alif mengabarkan ingin drop out dari kampusnya di Unpad. Ditambah lagi dengan teman-temannya geng Uno yang selalu memberinya semangat.
      Apa yang dialami Alif agaknya bisa dialami siapa saja. Namun yang berbeda adalah bagaimana menyikapinya. A. Fuadi menyampaikan berbagai pesan moral tersebut kepada pembaca dengan indah tanpa ada kesan menggurui. Ia menambahkan banyak kata-kata bijak yang bisa memacu semangat siapa saja, baik dalam bahasa Indonesia, Arab maupun Prancis.
     Dalam novelnya terlihat jelas juga kegelisahan penulis tentang negeri ini. Hal itu digambarkannya dalam bab Negeri Utopia. Alif terkagum-kagum dengan masyarakat Quebec, tempat ia mendapat beasiswa pertukaran pelajar. Ia mengangankan Indonesia bisa meniru Kanada dalam hal perbedaan pendapat. Ketika masyarakat Quebec ingin memisahkan diri dari Kanada, tidak ada sedikitpun konflik apalagi kontak fisik antar sesama sipil maupun aparat. Semua bebas berpendapat dan ketika keputusan telah didapat, seluruh warga menerimanya dengan besar hati, menghargai. Tokoh utama juga terkesima karena tingkat kriminal di sana adalan nol. Pintu rumah tak pernah dikunci siang dan malam namun tak pernah terjadi pencurian.
     “Semua orang sudah bisa memenuhi kebutuhannya masing-masing. Jika ada yang kurang beruntung, maka pemerintah berkewajiban memberikan santunan,” jelas Franc,homolouge Alif di Quebec.
       Novel yang terinspirasi dari kisah nyata ini juga terasa berwarna dengan sedikit sentuhan kisah percintaannya. Alif yang jatuh cinta pada Raisa, tetangga kos nya. Ia kerap berdebar-debar ketika berbicara dengan perempuan cerdas yang dianggapnya berkilauan ini. Namun sayang, Raisa malah berjodoh dengan Randai, sahabat sekaligus saingan Alif sejak kecil. Akhirnya, cinta Alif tak pernah tersampaikan. Hanya membeku disepucuk surat yang telah ditulisnya bertahun yang lalu.
       Ranah 3 warna yang berarti Bandung, Yordania, dan Kanada ini akhirnya membawa kita pada indahnya  tiga daerah berbeda rasa ini. Penulis memberikan deskripsi yang jelas untuk membangun imajinasi pembaca tentang ketiganya.
      Maka, jika anda telah mulai membaca buku ini, berkemungkinan besar anda tak akan berhenti membalik halamannya hingga menemukan kata TAMAT. Maka persiapkanlah segelas minuman hangat dan banyak cemilan. Selamat membaca.

Novel Inheritance






Semua berawal dengan Eragon...
Dan berakhir dengan Warisan.


     Beberapa waktu lalu, Eragon––Shadeslayer, Penunggang Naga––bukanlah siapa-siapa, hanya bocah petani miskin. Naganya, Saphira, cuma batu biru di hutan. Sekarang, nasib seluruh umat manusia berada di tangan mereka.

     Latihan dan pertempuran selama berbulan-bulan yang panjang membawa kemenangan dan harapan, tapi juga duka mencekam. Namun, pertempuran yang sesungguhnya belumlah terjadi: mereka harus berhadapan dengan Galbatorix. Mereka mesti cukup kuat untuk mengalahkannya. Dan kalau mereka tidak mampu, berarti yang lain tidak punya peluang.

    Tidak ada yang menyangka sang Penunggang dan naganya akan mampu sampai sejauh ini. Tetapi, sanggupkah mereka menggulingkan si raja jahat dan mengembalikan keadilan ke AlagaĆ«sia? Dan kalaupun sanggup, seberapa besarkah pengorbanan yang harus dilakukan?

Novel Brisingr







  brisingr adalah buku ketiga dari Seri Inheritance. Ceritanya berawal dengan pencarian Eragon, Saphira dan Roran untuk menemukan Katrina, tunangan Roran yang ditawan oleh Ra'zac. Setelah berhasil membebaskan Katrina, mereka kembali ke Varden. Roran dan Katrina pun akhirnya menikah. Eragon juga berusaha menghapus kutukan yang telah tidak sengaja ia timpakan ke seorang gadis kecil bernama Elva, yang menjadi pelindung dari kesengsaraan orang lain. Meski tidak berhasil menghapus kutukan itu, Elva mengatakan dia tidak akan menjadi teman atau musuh Eragon, tetapi Elva tetap menjaga kesetiaannya kepada Saphira.

       Roran ditugaskan menjadi salah satu prajurit penting Kaum Varden, ia dan pasukannya ditugaskan melumpuhkan kota-kota milik Kerajaan Galbatorix. Sementara Eragon ditugaskan oleh Nasuada untuk mengawasi pemilihan raja kurcaci yang baru setelah Horthgar meninggal. Syangnya, ia harus berpisah dengan Saphira beberapa lama. Setelah memenangkan kepercayaan para Dwarf, Orik, pemimpin klan Durgrimst Ingeitum ditunjuk menjadi raja baru Kaum Kurcaci. Saat penobatannya, Saphira dan Eragon memperbaiki Ishdar Mitrim di Farthen dur yang dulu hancur ketika pertarungan Eragon dengan Durza.

      Perjalanan Eragon dan Saphira berlanjut ke Ellesmera untuk meneruskan latihan ke Oromis dan Glaedr. Di sana Eragon diberitahu bahwa Ayah kandung Eragon yang sebenarnya adalah Brom. Karena pedang Eragon diambil Murtagh, ia meminta bantuan Rhunon-elda untuk membantunya membuat pedang penunggang baru dan diberi nama BRISINGR. Kemudian mereka kembali ke Kaum Varden untuk menyiapkan peperangan melawan pasukan Galbatorix

      Oromis dan Glaedr ikut melawan Thorn dan Murtagh di Gil'ead, tiba-tiba Golbatorix menampakan diri melalui Murtagh dan membunuh Oromis. Eragon yang saat itu bertarung bersama arya melawan Shade melihat pembunuhan itu dalam benaknya dan ini berarti Eragon dan Saphira adalah penunggang terakhir dan sendirian yang harus melawan Galbatorix.

      ketiga ini lebih seru dari seri sebelumnya, meski tebalnya jauh lebih daripada buku sebelumnya, tapi Paolini mampu membuat kita penasaran akan kelanjutan ceritanya. Termasuk lanjutan buku keempatnya, Inheritance.. :D

Novel Eldest

      






     Eldest adalah serial lanjutan dari Eragon. Walaupun berhasil mengalahkan pasukan Galbatorix dan membunuh Durza, Kaum Verden kehilangan pemimpinnya, Ajihad. Sepeninggal Ajihad, Kaum Varden mengangkat Nasuada, putri tunggal Ajihad, sebagai pemimpin mereka yang baru dan Eragon, sesudah mengucap sumpah setia pada Nasuada berencana meneruskan perjalanan mereka ke Ellesmera untuk dilatih sebagai penunggang Naga oleh para Elf. Sebelum berangkat, Eragon diadopsi oleh Raja kaum Kurcaci untuk menjadi anggota klan kurcacinya, Dugrimst Ingeitum. Eragon pergi ke Ellesmera dengan ditemani Arya dan Orik, anak angkat Hrotghgar, raja kaum kurcaci.Sesampainya di Ellesmera, ternyata masih ada penunggang dan naganya yang tersisa, Oromis dan Glaedr. Dari merekalah, Eragon dan Saphira belajar baik bersama-sama maupun terpisah.

      Selang beberapa lama, tersiar kabar Verden akan berperang melawan Kerajaan Galbatorix, sehingga membuat Eragon dan Saphira menunda latihannya lebih lanjut. Sementara itu, Roran dan penduduk Carvahall meninggalkan desa mereka dan mengungsi ke markas Kaum Varden. Pertarungan antara Varden dan pasukan Galbatorix berlangsung cukup sengit, karena ternyata Galbatorix telah menetaskan satu telur naganya yang dikendarai Murtagh, seorang teman Eragon yang dikira mati saat pertempuran Kaum Varden di buku 1 dulu, yang ternyata adalah saudara kandung Eragon sendiri. Meski peperangan bisa dimenangkan, tetapi petualangan belum berhenti, karena Eragon masih harus mengungkapkan identitasnya dan bertempur melawan Galbatorix. Sedangkan Roran juga masih harus membebaskan Katrina, kekasihnya yang ditawan oleh para Ra'zac.

     Novel Eldest ini lebih menceritakan sisi fantasinya saat berada di kediaman para Elf. Penggambaran yang apik dan alur yang ringan juga menjadi kekuatan dalam membuat pembacanya penasaran bagaimana kisah Eragon berlanjut

Novel Eragon


     



  


     Daya imajinasi Christopher Paolini yang tertuang dalam bukunya ini, benar-benar telah membuktikan bahwa daya imajinasinya memiliki kehebatan dan kekhasan tersendiri. Terbukti dengan alur cerita Eragon yang sama sekali tidak menunjukkan kebosanan seperti halnya novel lain. Dalam buku ini juga Christopher Paolini menunjukkan kreativitasnya dalam membuat berbagai bahasa kuno dan bahasa makhluk-makhluk sihir ciptaannya sendiri dengan sangat kontras.
Buku ini menceritakan tentang perubahan kehidupan Eragon, yang anak seorang petani miskin, menjadi seorang Penunggang Naga setelah menemukan sebuah telur naga berwarna biru safir di sekitar hutan Spine. Perubahan dalam kehidupannya mulai terlihat ketika Pamannya, Garrow, meninggal dunia karena dibunuh Ra’zac. Merasa dendam atas kematian Pamannya, Eragon dan Saphira, naganya yang telah menetas, Eragon pergi mengarungi dunianya yang semakin berubah dengan hadirnya berbagai makhluk sihir seperti urgal, kurcaci, elf, shade, dan banyak lagi.
            Semula, pembaca mungkin akan dibuat bingung dengan bahasa-bahasa aneh yang ada di dalam buku. Tetapi hal itu dapat teratasi dengan adanya kamus bahasa kuno dan bahasa makhluk sihir yang terdapat di bagian paling belakang buku. Memang sedikit merepotkan, tetapi Paolini sebelumnya telah menjelaskan bahwa kamus tersebut diletakkan di bagian paling belakang buku karena Eragon sendiri belum mengerti sejumlah bahasa kuno yang diucapkan oleh makhluk-makhluk yang berinteraksi dengannya.
            Kehebatan buku ini tentu saja tak lepas dari kesan yang dibawa oleh covernya yang sederhana namun cukup memiliki gambaran mengenai isi bukunya. Namun sayangnya, kesederhanaan ini tak menimbulkan kesan pemikat yang cukup terlihat dari warna bukunya yang cenderung monoton. Meskipun begitu, cerita yang disajikan buku ini sangat luar biasa bahkan mampu merangsang daya imajinasi pembacanya tanpa henti